Bengkulu Kota , RPP- Pemerintah Kota Bengkulu di bawah kepemimpinan Walikota Dedy Wahyudi dan Wawali Ronny terus memperkuat strategi penanganan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat.
Terbaru, Walikota menyatakan ketertarikannya untuk menjalin kerja sama strategis dengan Yayasan Bina Hijau Mandiri guna mengimplementasikan program budidaya maggot dan ikan lele di setiap kelurahan.
Inisiatif ini dirancang untuk menjawab tantangan penumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Air Sebakul melalui konsep ekonomi sirkular.
Sampah organik rumah tangga nantinya akan diproses menjadi pakan maggot yang kemudian menjadi sumber protein tinggi bagi budidaya ikan lele.
Disini, dijelaskan bahwa setiap rumah tangga sasaran akan mendapatkan bantuan berupa bioplog diameter 2 sebagai media pemeliharaan.
Kemudian, kurang lebih 1.000 ekor benih lele dan peralatan pendukung seperti aerator dan sistem pakan mandiri menggunakan Maggot yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik rumah tangga.
Dengan memanfaatkan Maggot, warga tidak perlu lagi bergantung pada pakan pabrikan yang mahal.
“Kita benar-benar menggunakan biaya minim karena pakan lele berasal dari sampah yang diolah menjadi Maggot hanya dalam waktu tiga minggu,” ujar Pemateri Bina Usaha Mandiri.(5/2/2026)
Program ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 250 kg ikan lele per bioplog dalam waktu 2,5 bulan.
Masyarakat diberikan beberapa opsi hilirisasi produk untuk memaksimalkan keuntungan lele aegar, harga jual Rp20.000/kg (Potensi pendapatan Rp5.000.000).
Kemudian, abon lele menghasilkan 25-35 kg abon.
Ada juga nugget lele, menghasilkan hingga 200 kg nugget dengan potensi pendapatan Rp8.000.000. Terakhir ikan fillet, harga jual Rp100.000/kg dengan potensi pendapatan Rp8.800.000.
Selain manfaat langsung bagi keluarga, program ini juga akan menyerap 12 tenaga kerja di setiap rumah produksi kelurahan, mulai dari petugas pengangkut sampah hingga pengolah ikan.
Sebagai bentuk motivasi, Pemerintah Kota Bengkulu menyiapkan penghargaan khusus. Walikota Dedy menegaskan bahwa pada akhir tahun 2026, akan dilakukan evaluasi terhadap keberhasilan program .(Adit)
















